Minggu, 09 Juni 2013

USIA IDEAL ANAK MASUK SEKOLAH DASAR



Menurut Prof. Dr. S.C. Utami Munandar yang dikutip dari episentrum.com, jumlah anak Indonesia yang memiliki kemampuan lebih hanya 2-5%. Sayangnya tidak semua anak-anak berkemampuan lebih ini mendapat pendidikan khusus.
             Tak semua sekolah mempunyai fasilitas, sarana dan prasarana yang bermutu, atau pun kelas unggulan yang bisa mengembangkan dan melihat anak-anak yang berbakat.
 Terlepas dari validitas angka prosentase tersebut, bahwa jumlah anak berbakat memang sedikit,  jauh lebih banyak yang normal-normal saja.
             Permasalahannya, banyak ditemui orang tua yang merasa anaknya istimewa sehingga bersikeras memasukkan anaknya ke Sekolah Dasar (SD) sebelum cukup usia padahal belum tentu anaknya istimewa atau termasuk dalam 2-5% seperti disebutkan  di atas. Mengapa sih tidak sabar sedikit menunggu anaknya berumur mendekati 7 tahun ?.
Jika kita masukkan anak ke SD pada usia 5 tahun, maka selain masih tertatih-tatih dalam keterampilan sosial, ia baru saja melewati (atau malah masih berada pada) masa kritis dalam perkembangan motorik (kekuatan dan keterampilan fisik), padahal  ketika di SD , bergerak di dalam kelas adalah hal yang tabu kecuali diizinkan oleh gurunya, dan ketika di SD, menulis adalah sebuah keharusan sementara perkembangan anak masih belum matang.
Jika kita masukkan anak ke SD pada usia 6 tahun, maka ia masih berada pada tahap kritis keterampilan sosial, padahal ketika di SD, bersosialisasi di dalam kelas adalah perilaku yang tidak diizinkan.
Para ahli sepakat bahwa periode keemasan tersebut hanya berlangsung satu kali sepanjang rentang kehidupan manusia, masalahnya, seperti yang dikatakan oleh Suharyadi dari Universitas Indonesia bahwa otak belakanglah yang menentukan kecerdasan seseorang, terutama untuk anak usia 7 tahun ke bawah.
Untuk usia 7 tahun ke bawah, pembelajaran yang terbaik adalah yang mengedepankan kenyamanan fisik (r-system), emosi (limbic), dan kesempatan untuk berimajinasi             (right brain), tanpa adanya kenyamanan untuk berimajinasi, maka otak akan memerintahkan tubuh bertindak atas dasar pencarian kenyamanan emosi, terjadilah yang disebut mogok, ngambek,  malas, membangkang, dan lain sebagainya.
Dari sisi perkembangan psikologi, ia menilai usia 7 tahun merupakan waktu yang pas bagi anak memulai pembelajaran di SD. Sementara usia kurang dari 6 tahun terkadang kurang tepat, karena anak-anak usia ini masih suka bermain.
Demikian pula dari berbagai studi perkembangan anak, maka usia 7 tahun adalah usia yang paling tepat untuk anak pada umumnya masuk ke Sekolah Dasar. Memang ada satu dua perkecualian, tetapi secara umum, pertumbuhan anak secara totalitas hingga usia 6 tahun, masih membutuhkan format Kindergarten untuk menuntaskannya. Disini Logos memilih untuk memberikan kesempatan pengembangan pribadi anak yang dewasa dan matang secara holistik, bukan hanya dari aspek intelektual atau ketrampilannya, tetapi juga emosinya, spiritualnya, sosialnya dan seterusnya.
Bagaimana anda sebagai insan pendidik dan para orang tua siswa  mempertimbangkan format dan pendekatan pendidikan yang banyak dipaparkan saat ini ?.  Apakah anda cenderung memaksakan percepatan pendidikan pada anak-anak anda ?.  Ataukah anda mulai mempertimbangkan untuk memberikan pendidikan yang lebih tepat, lebih baik, lebih normal, dan lebih manusiawi, sesuai dengan apa yang seharusnya terjadi pada anak-anak anda ?.
Anak yang terlalu dini masuk SD masih bermasalah khususnya di kelas satu, karena ia belum siap untuk belajar berkonsentrasi, karena ia masih sedang mengembangkan keteram­pilan geraknya. Akibatnya dia akan sulit berkonsentrasi, meskipun secara kemampuan intelektualnya dia sudah cukup mampu menyelesaikan soal-soal yang disediakan. Piaget membagi usia 2-7 tahun sebagai usia Pre-Operational Thought, dan 7-11 adalah Concrete Operational Thought. Titik alih bukan di usia 6 tahun, tetapi 7 tahun. Disini Logos menjembatani dengan Pre-Elemetary Class, dimana materi SD diberikan dengan format Kindergarten, yang membuat anak bisa dimampukan mengembangkan proses-proses pertumbuhan yang masih perlu ia selesaikan. Dengan demikian pada saat masuk SD (Elementary) di usia 7 tahun, ia  sudah bisa belajar dengan baik.
Peraturan pemerintah yang mewajibkan usia masuk SD adalah 7 tahun. Bukan di Indonesia saja peraturan ini diundangkan, di Switzerland dan di beberapa negara.
Tentu saja perundangan atau peraturan tersebut tidak begitu saja diputuskan. Menurut beberapa pakar psikologi, mental dan intelektualnya anak-anak umur 7 tahun sudah dianggap matang. Sehingga bisa duduk diam dan memperhatikan pelalajaran.
Tentu saja ini tidak berlaku mutlak pada setiap anak. Karena setiap anak yang lahir memiliki kemampuan dan perkembangan yang berbeda-beda. Ada anak yang memiliki talenta lebih atau memiliki kemampuan dan kecerdasan yang lebih ketimbang anak-anak lainnya. Untuk itu tidak ada salahnya jika sebelum usia sekolah anak sudah dicek dan dites umur mentalnya.
Bila skor IQ anak di atas 130, berarti anak tersebut cerdas dan memiliki kemampuan lebih. Namun jika skor ada di antara 85-115 berarti anak tersebut masih dikategorikan normal.
Usia 7 tahun juga merupakan fase ke empat dari masa perkembangan sensori integrasi. Pada masa ini seluruh indera anak bekerja menjelajahi berbagai pengalaman dan mengantarkannya ke otak. Fase ini bisa juga disebut sebagai proses pengisian otak.
Dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 6 ayat 1 disebutkan bahwa setiap warga negara yang berusia 7 – 15 tahun wajib mengikuti Pendidikan Dasar. Selain itu dalam Peraturan Pemerintah Nomor  17 Tahun 2010 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan pasal 69 ayat 4, juga disebutkan bahwa SD/MI atau bentuk lain yang sederajat wajib menerima warga negara berusia 7 tahun sampai dengan 12 tahun sebagai peserta didik sampai dengan batas daya tampungnya.
Pengalaman penulis dalam menangani anak-anak, anak masuk SD yang usiaya kurang dari tujuh  tahun bisa saja dari segi kognitifnya berkembang bagus, tapi ada kalanya terkendala dalam segi afektif dan psichomotorik.
Belajar dari pengalaman,  seorang guru SD (Warsiti, S.Pd.SD.) sudah enam tahun berturut-turut mengajar di kelas satu, pengalaman yang didapat ia  menyatakan bahwa anak usia tujuh  tahun tanpa sertifikat TK masuk SD  mudah dibawa dan diarahkan dalam proses pembelajaran,  sedangkan  anak usia enam  tahun dan bersertifikat TK  ternyata lebih sulit dibawa dan diarahkan dalam pembelajarannya.
Jadi  sebagai orang tua  wajib mempertimbangkan sudah layakkah anak kita masuk SD ?.  Kalau memang belum siap baik karena umur  ataupun yang lainnya, kenapa sih tidak bersabar menunggu  satu tahun. Atau tetap mau memaksa anak kita masuk SD, tergantung pihak  orang tua yang akan menentukan pilihannya  dan akan menuai hasil dari pendidikan anak. Semoga tidak salah pilih.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar