Rabu, 19 Juni 2013

BELUM BISA MEMBACA DAN MENULIS BISAKAH DITERIMA DI SEKOLAH DASAR



Sebuah Pertanyaan Bernada Khawatir dan Cemas dari Orang Tua
yang Berkeinginan Memasukkan Anaknya dari Konsep Pembelajaran di TK
Beralih ke Konsep Pembelajaran di Jenjang SD


Guru adalah pelaku pendidikan yang paling mengetahui dan mengerti keadaan peserta didik. Guru seharusnya menjadi orang pertama yang merasakan kegundahan peserta didik saat ia sulit menangkap isi pelajaran atau saat menghadapi masalah di luar pembelajaran. Dalam hal ini guru tidak saja berperan sebagai teacher, tetapi juga dapat berperan sebagai loco parentis, dimana ia mampu berperan sebagai pengganti orang tua peserta didik.
Disela-sela kesibukan pada musim Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) Tahun Pelajaran 2013/2014, ada salah seorang wali murid Taman Kanak Kanak (TK) Pertiwi menanyakan kepada teman saya seorang guru Sekolah Dasar (SD), pertanyaannya demikian : “Apa sih program sekolah di SD Ibu ?”. Ibu guru menjawab : Kalau di SD kami guru yang mengajar kelas satu beliau sangat rajin, telaten, sabar, bersuara lembut, dan perhatian  terhadap siswanya. Malahan kalau akan pulang sekolah  anak-anak diuji baca dan tulis, yang berhasil bisa meninggalkan ruang kelas terlebih dahulu, sedangkan  yang belum  berhasil, ibu guru meluangkan waktu secukupnya untuk memberikan privat baca dan tulis, upaya yang ditempuh oleh guru kelas satu tersebut   bertujuan  memotivasi  siswa agar bisa menyamakan kompetensi seperti teman yang lain. Alhamdulillah kiat yang dijalankan selama ini berhasil. Wali murid TK sangat menyimak jawabannya ibu guru tadi, sambil menyerahkan fotocopy akta kelahiran, fotocopy kartu keluarga, dan persyaratan  lainnya ia mengatakan kalau begitu anak saya mendaftar di SD Ibu saja, karena selama ini anak saya belum bisa membaca dan menulis. Ibu guru memberikan penjelasan lagi bahwa  pada awal masuk di kelas satu SD belum bisa baca dan tulis tidak apa-apa, sebab pada waktu pembelajaran di TK masih menganut prinsip bermain sambil belajar atau belajar seraya bermain karena dunia anak adalah dunia bermain (banyak bergerak), materi baca dan tulis belum wajib diajarkan. Lain halnya nanti kalau di SD pembelajaran sudah mengarah ke pendekatan pelatihan-pelatihan baik baca, tulis, maupun hitung melalui bimbingan secara intensif,  insya Allah anak ibu bisa. Itulah dialog sederhana yang sangat bermakna antara seorang guru dengan calon orang tua/wali siswa pada sebuah sekolah sebagai alternatif  pilihnnya.

Pengetahuan Awal Siswa
Seorang guru tentu tidak dapat mengabaikan pengetahuan awal siswa, sebab siswa yang dihadapi berasal dari berbagai macam latar belakang lingkungan. Pengetahuan siswa TK mungkin masih terpengaruhi lingkungan keluarganya, terutama ibu, sebab anak atau siswa seusia itu cenderung bersifat aktif (baik secara afektif, psikomotorik, dan emosionalnya) sehingga guru lebih dituntut bersifat aktif pula dalam proses pembelajaran.
Berbeda  dengan siswa di tingkat SD. Siswa dalam kisaran usia 6-12 tahun ini mempunyai minat yang objektif terhadap dunia luar. Mereka bersifat realistis dan ingin mengenal alam sekitarnya. Oleh sebab itu, mereka sangat aktif mengumpulkan fakta-fakta tentang alam sekitarnya; ingin tahu dan ingin belajar. Dan guru harus mampu mengimbangi dalam memberi kesempatan yang baik, tepat dan serasi bagi mereka dalam memenuhi hasratnya.

Kelasku adalah Rumahku
Lingkungan kelas secara sederhana dapat disebut sebagai lingkungan suasana intelektual, lingkungan emosional, lingkungan sosial, dan lingkungan fisik. Dan guru harus mengelola suasana tersebut dan menciptakan atmosfer baru sehingga para murid seolah-olah merasakan bahwa kelas tersebut seolah-olah merupakan rumah mereka sendiri, sehingga akan merasa betah menempatinya.

Kualifikasi Guru Kelas Satu
Guru yang ditugaskan untuk mengajar di kelas satu Sekolah Dasar  seyogianya memiliki kualifikasi  sebagai berikut  :
a.    Guru yang sudah senior dan berpengalaman.
b.    Memiliki kesabaran dan ketekunan untuk mendidik dan mengajar anak-anak yang masih dalam tahapan penyesuaian antara bermain dan belajar.
c.    Guru yang mampu menjadi orang tua/pengganti orang tua bagi siswa-siswanya di sekolah.
Difinisi Kualifikasi (Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia), kualifikasi adalah keahlian yang diperlukan untuk melakukan sesuatu atau menduduki jabatan tertentu. Jadi kualifikasi mendorong seseorang untuk memiliki suatu keahlian atau kecakapan khusus.
Kualifikasi guru dapat dipandang sebagai pekerjaan yang membutuhkan kemampuan yang mumpuni. Bahkan kualifikasi  dapat dilihat dari segi derajat lulusannya seperti
termaktub dalam Undang-undang Republik Indonesia Nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, mempersyaratkan guru : (1) memiliki kualifikasi akademik minimum S1/D4; (2) memiliki kompetensi sebagai agen pembelajaran yaitu kompetensi paedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional; dan (3) memiliki sertifikat pendidik.
Sahertian membedakan kualifikasi guru ini menjadi 2 (dua), yaitu kualifikasi personal dan kualifikasi profesional.
              Yang termasuk dalam kategori kualifikasi personal adalah guru yang baik (a good teacher), guru yang berhasil (a succesfull teacher), dan guru yang efektif (a affective teacher). Guru yang baik adalah guru yang memiliki sejumlah atribut sifat dan moral yang baik, misalnya sabar, setia, tegas, tanggung  jawab, jujur, ramah, konsisten, berinisiatif, berwibawa, luwes, dan sebagainya. Sedangkan guru yang berhasil adalah guru yang dapat menunjukkan kemampuan mengajarnya sehingga tujuan yang telah ditentukan dapat dicapai oleh subjek belajar. Kemudian guru yang efektif adalah guru yang mampu memanfaatkan waktu dan tenaga yang sedikit tetapi dapat mencapai hasil yang memuaskan. Disamping itu  guru juga mampu menggunakan berbagai strategi dan metode pembelajaran yang berdaya guna dan berhasil guna.
Sedangkan guru yang profesional menurut Sahertian adalah guru yang memiliki kompetensi yang diperoleh melalui pendidikan dan latihan, sehingga dapat melaksanakan tugasnya dengan baik.
Selamat bertugas mendidik anak bangsa, teruslah berjuang demi dunia pendidikan yang lebih baik, dan demi generasi penerus yang lebih sukses. Aamiin

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar